Pemukiman Kumuh


PEMUKIMAN KUMUH


Image result for pemungkiman kumuh di sby
sumber : nusantara.news
Pengertian Pemukiman Kumuh

Di kota-kota besar di Negara-negara Dunia biasa ditemukan adanya daerah kumuh atau pemukiman miskin. Adanya daerah kumuh ini merupakan pertanda kuatnya gejala kemiskinan, yang antara lain disebabkan oleh adanya urbanisasi berlebih, di kota-kota tersebut. Secara umum, daerah kumuh (slum area) diartikan sebagai suatu kawasan pemukiman atau pun bukan kawasan pemukiman yang dijadikan sebagai tempat tinggal yang bangunan-bangunannya berkondisi substandar atau tidak layak yang dihuni oleh penduduk miskin yang padat. Kawasan yang sesungguhnya tidak diperuntukkan sebagai daerah pemukiman di banyak kota besar, oleh penduduk miskin yang berpenghasilan rendah dan tidak tetap diokupasi untuk dijadikan tempat tinggal, seperti bantaran sungai, di pinggir rel kereta api, tanah-tanah kosong di sekitar pabrik atau pusat kota, dan di bawah jembatan.




 Karakteristik Pemukiman Kumuh : (Menurut Johan Silas)
     1. Keadaan rumah pada pemukiman kumuh terpaksa dibawah standar rata-rata 6 m2/orang. Sedangkan fasilitas perkotaan secara langsung tidak terlayani karena tidak tersedia. Namun karena lokasinya dekat dengan pemukiman yang ada, maka fasilitas lingkungan tersebut tak sulit mendapatkannya.
     2. Pemukiman ini secara fisik memberikan manfaat pokok, yaitu dekat tempat mencari nafkah (opportunity value) dan harga rumah juga murah (asas keterjangkauan) baik membeli atau menyewa. Manfaat pemukiman disamping pertimbangan lapangan kerja dan harga murah adalah kesempatan mendapatkannya atau aksesibilitas tinggi. Hampir setiap orang tanpa syarat yang bertele-tele pada setiap saat dan tingkat kemampuan membayar apapun, selalu dapat diterima dan berdiam di sana.


Beberapa ciri-ciri daerah kumuh ini antara lain:  


sumber : trendrumah.com
1. Dihuni oleh penduduk yang padat dan berjubel.
2. Dihuni oleh warga yang berpenghasilan rendah dan tidak tetap.
3. Rumah-rumah yang ada di daerah ini merupakan rumah darurat 
yang terbuat dari bahan-bahan bekas dan tidak layak.
4. Kondisi kesehatan dan sanitasi yang rendah, biasanya ditandai oleh lingkungan fisik yang jorok dan mudahnya tersebar penyakit menular.
5. Langkanya pelayanan kota seperti air bersih, fasilitas MCK, listrik, dsb
6. Pertumbuhannya yang tidak terencana sehingga penampilan fisiknya pun tidak teratur dan tidak terurus.


Faktor penyebab terjadinya pemukiman kumuh :

1.   Faktor Urbanisasi Penduduk
Urbanisasi mengacu pada pergeseran populasi dari daerah pedesaan ke perkotaan, "peningkatan bertahap jumlah orang yang tinggal di daerah perkotaan", dan cara-cara di mana setiap masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan ini.Hal ini secara khusus merujuk kepada proses di mana kota-kota yang terbentuk menjadi lebih besar karena lebih banyak orang mulai tinggal dan bekerja di daerah tersebut 

2. Faktor Lahan di Perkotaan
Pertumbuhan dan perkembangan kota yang sangat pesat telah menyebabkan berbagai persoalan serius diantaranya adalah permasalahan perumahan. Permasalahan perumahan sering disebabkan oleh ketidakseimbangan antara penyediaan unit hunian bagi kaum mampu dan kaum tidak mampu di perkotaan. Di samping itu sebagian kaum tidak mampu tidak menguasai sumber daya kunci untuk menopang kehidupannya, sehingga kaum tidak mampu ini hanya mampu tinggal di unit-unit hunian sub standar di permukiman yang tidak layak.
   3. Faktor Prasarana dan Sarana Dasar
Secara umum karakteristik permukiman kumuh diwarnai juga oleh tidak memadainya kondisi sarana dan prasarana dasar seperti halnya suplai air bersih, jalan, drainase, jaringan sanitasi, listrik, sekolah, pusat pelayanan kesehatan, ruang terbuka, pasar dan sebaginya.
Rendahnya kemampuan pelayanan sarana dan prasarana dasar ini pada umumnya disebabkan kemampuan pemerintah yang sangat terbatas dalam pengadaan serta pengelolaan sarana dan prasarana lingkungan permukiman, kemampuan dan kapasitas serta kesadaran masyarakat juga terbatas pula. 

   4. Faktor Sosial Ekonomi
Pada umumnya sebagian besar penghuni lingkungan permukiman kumuh mempunyai tingkat pendapatan yang rendah karena terbatasnya akses terhadap lapangan kerja yang ada. Tingkat pendapatan yang rendah ini menyebabkan tingkat daya beli yang rendah pula atau terbatasnya kemampuan untuk mengakses pelayanan sarana dan prasarana dasar.

   5. Faktor Sosial Budaya
Permukiman kumuh juga sering ditandai oleh tingkat pendidikan dan keterampilan yang sangat rendah. Pada umumnya tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah ini sangat erat dengan rendahnya tingkat pedapatan penduduk sehingga mambatasi akses terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.



Cara menanggulangi masalah pemukiman kumuh antara lain :

1.       Dengan membangun rumah susun.
Mungkin dengan adanya rumah susun, masyarakat yang  masih tinggal dipemukiman kumuh ini dapat tinggal di rumah susun ini. Walaupun biayanya tidak begitu murah tetapi fasilitas dan kelayakannya dapat di pertimbangkan. Apalagi dengan adanya rumah susun ini dapat menghemat lahan pemukiman

2.       Memberikan penyuluhan tentang dampak tinggal di pemukiman kumuh ini.
Tidak lepas dari dampak yang di timbulkan bagi masyarakat yang tinggal di pemukiman kumuh ini. Karena kondisi pemukiman yang jauh dari layak ini menyebabkan banyak masalah. Salah satunya adalah mewabahnya penyakit. Karena kebanyakkan pemukiman ini berada di pinggir rel kereta api atau di bawah kolong jembatan. Sehingga tidak terlepas tentang penyakit.

3.       Program perbaikan kampung.
Apabila cara ke 1 dan ke 2 ini gagal. Maka pemerintah bisa memperbaiki struktur atau fasilitas di desa. Sehingga masyarakat ini dapat tertarik  untuk kembali ke kampong halamannya. Salah satu caranya bisa saja dengan memperbaikki fasilitas yang ada di desa seperti yang ada di kota. Atau dapat juga membangun lapangan kerja yang banyak di desa atau memberikan program – program bantuan untuk masyarakat desa seperti yang di rencanakan pemerintah pada program transmigrasi.

Kebersihan kota juga merupakan tanggung jawab bersama. Wakil Bupati Lamandau H. Sugiyarto mengatakan, meskipun total jumlah petugas kebersihan yang ada di Nanga Bulik terbatas, namun masih bisa maksimal menjaga keindahan dan kebersihan kota. Namun Wabup mengingatkan, keindahan dan kebersihan kota bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan. Itu perlu didukung oleh seluruh masyarakat. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, serta memilah sampah organik dan anorganik perlu ditingkatkan.

Pemungkiman kumuh banyak dijumpai didaerah perkotaan karena di perkotaan lebih banyak penduduk nya dibanding kan di pedesaan,dari jumlah penduduk yang banyak itu sebagian besar kurang mementingkan kebersihan yang menyebabkan lingkungan menjadi kumuh.

Adapun 3 penghargaan tertinggi yang diperoleh Kota Surabaya yaitu :

1.    Adipura Kencana
Anugerah Adipura Kencana merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada kota yang menunjukkan kinerja pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

2.    Kinerja Pengurangan Sampah
Penghargaan kedua yang diterima oleh Surabaya adalah Kinerja Pengurangan Sampah 2018. penghargaan ini diberikan kepada kota-kota yang mempunyai inovasi penting dalam pengurangan sampah, terutama melalui implementasi pembatasan kantong plastik sekali pakai serta meningkatkan daur ulang plastik melalui TPS 3R dan bank sampah.

3.    Nirwasita Tantra
Sedangkan penghargaan yang ketiga adalah Penghargaan Nirwasita Tantra atau Green Leadership Award. Anugerah ini merupakan penghargaan pemerintah pusat kepada kepala daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten atau kota, dan Pimpinan DPRD.






Contoh Kasus :
“ KBRN, Surabaya : Kawasan Kumuh di Kota Surabaya ternyata masih relatif besar. Pansus Penataan Perumahan dan Permukiman Kumuh DPRD Kota Surabaya mengungkapkan, berdasarkan data Pemkot Surabaya luas kawasan yang tergolong kumuh sekitar 150 hektar.
Ketua Pansus Penataan Perumahan dan Pemukiman Kumuh, Budi Leksono mengatakan, kawasan kumuh yang ada berada di tempat yang status tanahnya legal dan illegal.”












Komentar